Whiplash dan La La Land sering ditaruh di dua kutub yang berseberangan. Satu beringas, penuh teriakan dan darah di stik drum. Satu lagi lembut, penuh lampu jalan dan lagu yang dinyanyikan setengah berbisik. Padahal keduanya datang dari orang yang sama: Damien Chazelle, dengan Justin Hurwitz menggarap musiknya. Yang membuat dua film ini layak dibaca berdampingan bukan soal mana yang lebih baik, tapi soal bagaimana jazz dipakai untuk mengucapkan hal-hal yang tokohnya sendiri tidak sanggup katakan.
Jazz di sini bukan sekadar latar belakang
Di Whiplash, jazz adalah ruang latihan yang pengap, tempat seorang guru menghitung ketukan sambil menatap muridnya seperti barang cacat. Di La La Land, jazz adalah piano di bar yang setengah kosong dan obrolan panjang tentang sejarah musik di depan poster tua. Dua wajah dari tradisi yang sama.
Chazelle tidak menempatkan musik sebagai hiasan. Ia memakai musik sebagai karakter. Ketika Andrew Neiman duduk di balik drum, yang kita dengar bukan sekadar komposisi, tapi tingkat keputusasaan seseorang yang ingin diakui. Dan ketika Sebastian duduk di piano, yang kita dengar adalah seseorang yang sedang mempertahankan sesuatu yang ia tahu sudah hampir hilang.
Perbedaan itu penting. Satu film memakai jazz untuk menekan, satu film memakai jazz untuk merayu. Dari situ, dua cerita tentang harga diri mulai berpisah arah.
"Not quite my tempo" dan seni membuat orang hancur
Fletcher, guru di Shaffer Conservatory yang diperankan J.K. Simmons, tidak pernah memukul. Ia hanya bicara. Tapi cara ia bicara membuat ruangan terasa mengecil. Ia melempar stik, menghentikan latihan berkali-kali, dan mengulang kalimat yang sama sampai muridnya lupa siapa dirinya. Semua itu terjadi di atas musik — angka birama, tempo, ketukan yang harus tepat.
Di sinilah Whiplash paling cerdas. Kekerasan emosionalnya dibungkus dalam bahasa teknis. "Rushing or dragging?" bukan pertanyaan, itu vonis. Ketika Andrew bilang ia tidak tahu, jawabannya sudah jelas: ia salah. Musik jadi alat ukur yang tidak pernah bisa dipenuhi.
Dan kita, sebagai penonton, ikut terjebak. Adegan drum solo panjang di akhir terasa memuaskan justru karena kita sudah lelah menontonnya. Chazelle membiarkan kita merasakan hal yang sama dengan Andrew: bahwa penderitaan itu ternyata bisa terasa seperti pencapaian. Itu bukan pesan yang nyaman, dan filmnya tidak berusaha membuatnya nyaman.
Yang menarik, lagu yang mereka mainkan sepanjang film — termasuk komposisi Hank Levy yang jadi judul film ini — terasa dingin dan penuh hitungan. Jazz di sini bukan musik yang bebas. Jazz di sini adalah disiplin yang bisa dipakai untuk menghukum.
La La Land dan jazz yang dijual demi sesuatu yang lain
Sebastian Wilder punya keyakinan yang keras: jazz harus dirawat seperti benda pusaka. Ia menjelaskan panjang lebar ke Mia tentang ruang dansa tempat para legenda dulu bermain, tentang konflik dan kompromi yang membuat musik itu hidup. Ia ingin punya klub sendiri, memutar lagu yang tidak semua orang kenal.
Lalu ia bergabung dengan band Keith, diperankan John Legend, yang memainkan jazz yang lebih mudah dicerna. Ada synth, ada penonton yang berteriak, ada tur panjang. Seb menandatangani sesuatu yang bertentangan dengan pidatonya sendiri. Bukan karena ia bodoh, tapi karena ia butuh uang, dan karena jalan yang ia impikan ternyata tidak membayar sewa.
Chazelle tidak menghukum Seb karena itu. Ia hanya menunjukkan konsekuensinya. Seb melewatkan pertunjukan teater Mia, dan itu bukan sekadar jadwal yang bentrok. Itu momen ketika ia memilih musiknya sendiri ketimbang orang yang mendukungnya.
Lagu-lagu Hurwitz di film ini bekerja dengan cara yang berlawanan dari Whiplash. "Mia & Sebastian's Theme" dan "City of Stars" tidak menekan siapa pun. Mereka mengingatkan. Musik di La La Land selalu berbicara tentang sesuatu yang sudah lewat atau belum terjadi, dan itu sebabnya epilognya terasa seperti tikaman halus.
Dua cara mengakhiri cerita dengan musik
Whiplash berakhir dengan duel. Andrew kembali ke panggung, memainkan "Caravan" di luar arahan, memaksa Fletcher mengikuti. Di menit-menit itu, guru dan murid akhirnya berbicara dalam bahasa yang sama, dan satu-satunya pengakuan yang mereka punya adalah anggukan singkat. Tidak ada pelukan, tidak ada permintaan maaf. Hanya musik yang selesai tepat waktu.
La La Land berakhir dengan fantasi. Dalam "Epilogue", kita melihat lima menit kehidupan yang seharusnya terjadi: rumah, anak, klien yang ramai, dan Seb yang bermain piano di ruang tamu. Lalu gambar itu dipotong, dan kita kembali ke bar tempat Mia datang bersama suaminya. Mereka bertukar pandang, Seb mengangguk, lalu memainkan lagu berikutnya.
Dua akhir yang berbeda, satu kesamaan: musik dipakai untuk mengatakan hal yang tidak mungkin diucapkan lewat dialog. Whiplash memilih ketukan terakhir sebagai bentuk kemenangan yang pahit. La La Land memilih nada pertama setelah keheningan sebagai bentuk penerimaan.
Ambisi selalu punya ongkos, dan cinta sering jadi alat bayarnya
Di Whiplash, Andrew memutuskan hubungan dengan Nicole bukan karena ia jahat. Ia melakukannya karena ia melihat hubungan itu sebagai gangguan, dan ia sudah terlanjur percaya bahwa jadi hebat berarti mengorbankan hal-hal lain. Filmnya tidak membantah keyakinan itu. Filmnya hanya menunjukkan harganya.
Di La La Land, pengorbanan itu bergerak ke arah sebaliknya. Mia justru berhasil karena ia berani menulis dan memainkan pertunjukan satu orang yang gagal. Seb berhasil karena ia akhirnya berhenti mengejar versi jazz yang ia bayangkan dan membuka klub yang sederhana, bernama Seb's — nama yang dulu diusulkan Mia. Mereka berdua sampai, tapi tidak bersama.
Ini bagian yang paling jujur dari kedua film: ambisi tidak selalu menghancurkan, dan cinta tidak selalu cukup. Yang Chazelle tolak adalah gagasan bahwa seseorang bisa mendapatkan semuanya tanpa ada yang patah di sepanjang jalan.
Menonton ulang dengan cara mendengar yang berbeda
Kalau ingin merasakan hal baru dari dua film ini, coba ubah cara menontonnya. Jangan ikuti visualnya dulu, ikuti musiknya.
- Perhatikan tempo di Whiplash. Setiap kali Fletcher bicara, ritme editing ikut mengetat. Ketegangan yang kamu rasakan sebenarnya dibangun oleh hitungan, bukan oleh dialog.
- Dengarkan keheningan di La La Land. Hurwitz sering membiarkan piano berhenti di tengah frasa. Jeda itu yang membuat "Audition (The Fools Who Dream)" terasa seperti pengakuan, bukan pertunjukan.
- Bandingkan dua adegan piano terakhir. Satu dimainkan dengan tangan berdarah, satu dengan wajah tenang. Dua cara berbeda untuk mengatakan hal yang sama: ini yang saya pilih, dan ini yang harus saya tanggung.
- Coba dengar tanpa gambar. Soundtrack keduanya berdiri sendiri sebagai karya, dan justru di situ kamu akan sadar betapa banyak cerita yang sebenarnya disimpan di nada, bukan di layar.
Whiplash dan La La Land tidak sedang berdebat soal mana yang lebih benar antara obsesi dan cinta. Keduanya hanya menolak berbohong. Ada orang yang memilih panggung dan kehilangan segalanya, ada yang memilih panggung lalu menoleh sebentar ke belakang. Jazz, dalam dua film ini, adalah tempat kedua pilihan itu diakui tanpa dihakimi.