Dunia Film, Anime, dan Tontonan Dewasa dalam Satu Ulasan
Iklan
Ulasan

The Seed of the Sacred Fig Menarik Paranoia ke Ranah Politik

Sebuah pistol hilang di rumah seorang pegawai pengadilan, dan seisi rumah perlahan saling curiga. Mohammad Rasoulof memakai ketakutan satu keluarga untuk menunjukkan bagaimana represi negara merambat masuk ke ruang makan. Ini ulasan tanpa spoiler besar.

The Seed of the Sacred Fig Menarik Paranoia ke Ranah Politik

The Seed of the Sacred Fig bukan tontonan yang membuat kita bersandar nyaman di kursi. Hampir tiga jam Rasoulof menahan kita di dalam satu rumah, dengan kamera yang jarang berkedip dan percakapan yang terasa seperti jebakan. Tidak ada ledakan. Tidak ada kejar-kejaran. Yang ada cuma kecurigaan yang tumbuh pelan-pelan sampai terasa sesak di dada.

Dan justru di situ kekuatan film ini. Ia tidak menembak kita dengan propaganda, ia membiarkan kita ikut jadi paranoid.

Satu pistol hilang, satu rumah mulai retak

Kisahnya berpusat pada Iman, seorang pegawai di lembaga peradilan yang jadi bagian dari mesin hukum negara. Ia baru saja dipromosikan, dapat rumah dinas, dan hidupnya tampak rapi. Istrinya, Najmeh, bekerja di kantor pemerintahan. Dua anak mereka, Rezvan dan Sana, mahasiswa yang tumbuh besar di tengah gelombang protes yang mengguncang Iran.

Iklan

Lalu pistol dinas Iman hilang dari laci. Selesai. Itu saja pemicunya.

Tapi di negara yang menganggap senjata pejabat sebagai urusan besar, kehilangan itu bukan sekadar masalah rumah tangga. Iman bisa kehilangan pekerjaan, reputasi, bahkan nyawanya. Ia menuntut jawaban dari istri dan anak-anaknya. Mereka bersumpah tidak tahu. Tidak ada yang percaya.

Rasoulof tidak pernah menunjukkan siapa yang mengambilnya, setidaknya tidak buru-buru. Ia membiarkan kecurigaan itu mengendap, berpindah dari satu anggota keluarga ke anggota lain, sampai kita sebagai penonton pun mulai menuduh siapa pun yang ada di layar.

Paranoia yang tumbuh dari meja makan

Bagian terbaik film ini terjadi di ruang-ruang yang paling biasa. Dapur. Kamar tidur. Meja makan. Tempat-tempat yang seharusnya jadi tempat orang melepas lelah, di sini berubah jadi ruang interogasi.

Setiap pertanyaan terdengar seperti tuduhan. Setiap diam terasa seperti pengakuan. Ada adegan-adegan makan bersama yang saya tonton dengan pundak tegang, karena Rasoulof membiarkan percakapan berjalan lebih lama dari yang nyaman. Ia tahu bahwa kekerasan paling mengerikan sering kali tidak berupa pukulan, tapi berupa tatapan dan kalimat pendek yang diucapkan dengan suara datar.

Dan di sinilah The Seed of the Sacred Fig berbeda dari drama keluarga biasa. Konflik domestiknya bukan metafora yang dipaksakan. Ia benar-benar terasa sebagai akibat langsung dari sesuatu yang jauh lebih besar di luar rumah: aparat, aturan, dan rasa takut yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Represi negara bukan latar, tapi pemain utama

Banyak film politik menjadikan situasi negara sebagai dekorasi belaka. Di sini tidak. Negara hadir sebagai sesuatu yang menempel di dinding, di seragam, di handphone, di cara orang berbicara satu sama lain.

Rasoulof menyelipkan rekaman-rekaman nyata dari gelombang protes "Wanita, Kehidupan, Kebebasan" yang diambil dari ponsel. Gambar-gambar itu kasar, goyang, dan justru karena itulah terasa menyakitkan. Potongan-potongan tersebut tidak dipakai sebagai hiasan, tapi sebagai pengingat bahwa yang kita tonton bukan fiksi yang jauh. Ada orang sungguhan di luar sana yang menghadapi hal serupa.

Keputusan ini juga yang membuat film terasa seperti dokumen sekaligus thriller. Kita tahu ini bukan rekaman asli kejadian di dalam rumah Iman, tapi kita juga tahu bahwa rumah-rumah seperti itu memang ada.

Kamera yang membuat kita jadi pengintai

Secara teknis, film ini tidak banyak bermain-main dengan gaya. Kamera mengikuti tokoh, sering dalam take panjang, dengan pencahayaan yang cenderung redup dan realistis. Tidak ada musik yang memaksa kita merasa tegang; ketegangannya datang dari wajah-wajah yang menahan sesuatu.

Para pemainnya membawa film ini dengan sangat baik. Soheila Golestani memerankan Najmeh dengan semacam kelelahan yang tidak pernah diucapkan, sementara Missagh Zareh membuat Iman jadi orang yang menyebalkan sekaligus menyedihkan. Ia bukan penjahat berdarah dingin; ia cuma orang yang terlalu lama menurut pada sistem sampai tidak tahu cara berhenti.

Dua aktris muda, Mahsa Rostami dan Setareh Maleki, menanggung beban emosional paling besar di paruh akhir. Terutama karena karakternya yang paling terjepit: mereka hidup di dua dunia, antara hormat pada ayah dan kesadaran bahwa dunia di luar rumah berubah.

Kenapa film ini bukan tontonan santai

Durasi hampir tiga jam memang bukan angka yang ramah, dan tempo paruh awalnya cukup sabar. Kalau kamu mencari thriller dengan kejutan cepat, film ini akan terasa lambat. Rasoulof lebih suka menumpuk ketegangan sedikit demi sedikit, lalu melepasnya di bagian yang sulit ditonton.

Perlu diingat juga, ini film untuk penonton dewasa dalam arti yang sebenarnya: temanya berat, kekerasannya tidak disembunyikan, dan ada satu momen yang membuat saya harus berhenti sejenak setelah layar mati. Bukan karena gore atau adegan eksplisit, tapi karena dinginnya situasi yang begitu dekat dengan kenyataan.

Kalau kamu menonton film untuk melepas penat, ini pilihan yang salah. Kalau kamu menonton film untuk dibawa keluar dari zona nyaman dan dipaksa berpikir, ini salah satu yang paling kuat dalam beberapa tahun terakhir.

Layak diburu atau dilewati?

Layak. Tapi dengan catatan.

The Seed of the Sacred Fig bukan film yang selesai saat kredit penutup muncul. Ia tinggal, mengganggu, dan membuat kita memikirkan hal-hal yang tidak nyaman. Rasoulof membuat film ini dalam kondisi yang tidak bisa dibilang aman, dan itu terasa di setiap frame. Bukan dalam bentuk heroisme yang berteriak, tapi dalam bentuk ketelitian dan kehati-hatian orang yang tahu risikonya.

Kalau kamu hanya sempat menonton satu film politik tahun ini, jadikan yang ini. Bukan karena ia sempurna—paruh awal bisa dipangkas sedikit, dan sebagian dialog terasa terlalu menjelaskan—tapi karena ia melakukan sesuatu yang jarang: membuat kita merasakan bagaimana takut bisa jadi bahasa sehari-hari di dalam sebuah rumah.

Iklan

Artikel Lainnya