Dunia Film, Anime, dan Tontonan Dewasa dalam Satu Ulasan
Iklan
Film

Anatomy of a Fall Tak Perlu Menunjukkan Kejadiannya

Justine Triet memilih tidak pernah menunjukkan detik Samuel jatuh dari jendela loteng. Kamu hanya mendengar musik yang menggelegar, melihat sidangnya, dan menimbang sendiri. Di situlah ketegangannya hidup — bukan di adegan kematiannya.

Anatomy of a Fall Tak Perlu Menunjukkan Kejadiannya

Judulnya menjanjikan anatomi. Pembedahan, penguraian tubuh cerita bagian per bagian. Lalu filmnya berjalan lebih dari dua jam tanpa pernah sekali pun menunjukkan bagian yang paling penting: Samuel jatuh dari jendela loteng chalet mereka di Pegunungan Alpen, dan kamera Justine Triet memilih tidak berada di sana.

Bagi sebagian penonton ini menyebalkan. Bagi yang lain, justru inilah yang membuat Anatomy of a Fall sulit dilepaskan dari kepala. Ketegangannya tidak dibangun dari adegan kematian, tapi dari lubang yang sengaja dibiarkan menganga di tengah cerita.

Yang Kamu Dengar Jauh Lebih Menusuk dari yang Kamu Lihat

Film dibuka dengan wawancara. Seorang mahasiswa datang ke chalet untuk bertanya soal tulisan Sandra. Dari lantai atas, Samuel memutar musik dengan volume yang menyakitkan telinga — sebuah lagu 50 Cent yang diaransemen ulang dengan steel drum, berulang, keras, tidak masuk akal untuk situasi apa pun.

Iklan

Musik itu bukan sekadar pengganggu suasana. Ia jadi bukti di persidangan, jadi penanda waktu, jadi cara film memberi tahu bahwa sesuatu sedang terjadi tanpa harus memperlihatkannya. Ketika Samuel akhirnya ditemukan tewas di bawah jendela, kita sudah lebih dulu mendengar kekerasan rumah tangga itu — bukan dalam bentuk pukulan, tapi dalam bentuk suara yang tidak bisa dimatikan oleh siapa pun di ruangan itu.

Adegan jatuh, kalau ditampilkan, akan menjadi gambar yang selesai. Kamu melihat, kamu tahu, kamu berhenti bertanya. Dengan menahannya, Triet memindahkan beban pertanyaan itu ke pundak penonton, dan beban yang kita bawa sendiri selalu terasa lebih berat.

Ruang Sidang Jadi Pengganti Adegan Kejahatan

Yang menggantikan adegan kematian adalah ruang sidang. Di sana, jaksa membangun satu versi Sandra, pengacara membangun versi lain, dan keduanya terdengar masuk akal. Rekonstruksi jatuhnya Samuel diperagakan dengan boneka, bukan dengan tubuh manusia. Ada sesuatu yang hampir mengejek di situ: tubuh yang mati digantikan benda mati, sementara emosi yang sesungguhnya justru disembunyikan rapat-rapat.

Ini langkah yang cerdas karena mengubah posisi kita. Kita tidak lagi jadi penonton yang menunggu kejadian, tapi jadi juri yang dipaksa menimbang. Setiap saksi menambah satu potongan, dan tidak satu pun potongan itu benar-benar menyatu jadi gambar utuh. Ketegangannya bukan ketegangan menunggu jumpscare. Ini ketegangan orang yang tahu ia tidak akan pernah dapat jawaban pasti, tapi tetap harus memutuskan berpihak ke mana.

Rekaman Pertengkaran dan Jebakan Terlalu Banyak Informasi

Satu-satunya saat film benar-benar memberi kita adegan utuh adalah ketika rekaman pertengkaran Sandra dan Samuel diputar di persidangan. Rekaman audio itu meledak jadi flashback panjang, dan untuk beberapa menit kita merasa akhirnya tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu.

Rasanya seperti hadiah. Padahal bukan.

Pertengkaran itu bukan kejahatan. Ia hanya pernikahan yang sudah lama rusak, dua orang yang saling melempar kegagalan masing-masing dengan cara paling menyakitkan yang bisa mereka temukan. Kita keluar dari adegan itu dengan informasi lebih banyak dan keyakinan yang justru lebih tipis. Apakah orang yang bicara sekejam itu mampu membunuh? Pertanyaan itu tidak terjawab, dan Triet jelas tidak berniat menjawabnya.

Daniel, Anjing, dan Kebenaran yang Tidak Bisa Diverifikasi

Kalau ada satu karakter yang mewakili cara film ini bekerja, itu Daniel, anak mereka. Penglihatannya hilang setelah kecelakaan, dan ingatannya jadi satu-satunya "saksi" yang punya akses ke dalam rumah tangga itu. Tapi ingatannya tidak bisa dipercaya sepenuhnya — bukan karena ia pembohong, tapi karena ia anak yang mencintai kedua orangtuanya dan tahu bahwa kesaksiannya akan menghancurkan salah satu dari mereka.

Lalu ada Snoop, anjing keluarga itu. Dalam sebuah film yang menolak memberi kepastian, kehadiran Snoop hampir terasa seperti lelucon gelap. Ia diberi makan obat, ia muntah, ia dijadikan bahan eksperimen di ruang sidang, dan pada akhirnya ia satu-satunya makhluk di film ini yang tidak perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Ia hanya ada, dan ia tidur di kasur Sandra di adegan terakhir.

Ending yang Menolak Menyerahkan Kunci

Sandra dibebaskan. Itu bukan bocoran, karena pertanyaannya bukan pernah soal vonis. Film berakhir dengan ia pulang, anjingnya melompat ke kasur, dan hidup berjalan lagi seperti tidak ada apa-apa. Tidak ada penjelasan. Tidak ada kilas balik terakhir yang membuka tabir. Triet menutup filmnya dengan pintu yang tetap tertutup.

Dan di situlah letak seluruh taruhannya. Persidangan, dalam film ini, bukan alat mencari kebenaran. Ia alat mencari cerita yang paling meyakinkan. Siapa pun yang bercerita paling rapi, paling sesuai dengan bayangan juri soal bagaimana seharusnya seorang istri berduka, dialah yang menang. Sandra nyaris kalah bukan karena bukti, tapi karena ia tidak menangis dengan cara yang diharapkan orang.

Kenapa Cara Ini Bekerja, dan Kapan Jadi Cuma Tipuan

Menahan adegan kunci adalah pisau bermata dua. Ia bisa jadi kekuatan, bisa juga jadi kedok untuk film yang sebenarnya tidak punya isi. Bedanya ada di apa yang kamu taruh sebagai gantinya:

  • Kalau yang disembunyikan digantikan oleh karakter yang rumit, penonton akan sibuk menafsir, bukan merasa dicurangi.
  • Kalau yang disembunyikan digantikan oleh kesepakatan kosong, penonton akan marah — dan pantas marah.
  • Kalau filmnya berani membiarkan ambiguitas sampai akhir tanpa memberi petunjuk palsu, kepercayaan penonton tetap terjaga.

Anatomy of a Fall ada di kategori pertama. Sandra Hüller memainkan Sandra dengan cara yang membuat kita tidak pernah yakin apakah ia sedang menahan kesedihan atau menahan kebohongan. Wajahnya jadi pengganti adegan jatuh yang tidak pernah kita lihat, dan wajah itu jauh lebih tidak bisa dibaca.

Wajar kalau film ini membawa pulang Palme d'Or dari Cannes dan kemudian menang Oscar untuk skenario orisinal. Bukan karena ia rumit, tapi karena ia percaya penontonnya cukup dewasa untuk duduk bersama ketidakpastian selama dua setengah jam tanpa diberi hadiah di akhir.

Jadi kalau kamu menunggu adegan jatuhnya muncul, kamu akan menunggu selamanya. Tapi kalau kamu menerima bahwa film ini bukan tentang bagaimana Samuel mati, melainkan tentang bagaimana orang-orang di sekitarnya memutuskan untuk menceritakannya, ketegangan itu justru tidak pernah lepas. Lubang di tengah cerita bukan cacat. Itu tempat kamu berdiri.

Iklan

Artikel Lainnya