Dunia Film, Anime, dan Tontonan Dewasa dalam Satu Ulasan
Iklan
Film

Dua Cara Film Horor Indonesia Menakut-nakuti Lewat Akar Budaya

Dua film Joko Anwar ini sering disebut tonggak folk horror Indonesia, tapi rasa takutnya datang dari tempat berbeda. Yang satu menggedor pintu rumah, yang satu menyeret kita ke desa yang menyimpan utang darah. Memahami bedanya bikin kita lebih peka soal cara horor lokal bekerja.

Dua Cara Film Horor Indonesia Menakut-nakuti Lewat Akar Budaya

Ada dua film yang belakangan ini sering dijadikan patokan saat orang membahas horor Indonesia yang serius: Pengabdi Setan dan Perempuan Tanah Jahanam. Keduanya disutradarai Joko Anwar, keduanya laris, dan keduanya sama-sama mengangkat hal-hal yang sudah lama mengendap di kepala penonton kita. Tapi kalau diperhatikan, cara keduanya membangun ketakutan itu tidak sama. Justru di situlah letak pelajarannya.

Dua Film, Satu Sutradara, Dua Sumber Takut

Pengabdi Setan (2017) adalah remake dari film 1980 yang judulnya sama. Perempuan Tanah Jahanam (2019) adalah cerita orisinal, meski akarnya jelas pada mitos dan kepercayaan lama di desa-desa Jawa. Yang satu tumbuh dari memori kolektif penonton yang pernah dibikin takut oleh versi aslinya. Yang satu tumbuh dari rasa asing terhadap kampung sendiri.

Perbedaan titik berangkat ini penting. Karena dari sana, dua film itu mengambil bahan baku yang berbeda untuk merakit rasa horornya.

Iklan

Pengabdi Setan dan Teror yang Datang dari Dalam Rumah

Kalau Anda perhatikan, hampir semua ketegangan di Pengabdi Setan terjadi di dalam atau di sekitar rumah. Ibu yang sakit keras, anak-anak yang harus diam, suara-suara yang muncul saat malam, dan sosok yang mengetuk tanpa pernah benar-benar terlihat jelas. Rumah di film ini bukan sekadar latar. Rumah itu sendiri yang jadi sumber masalah.

Yang membuatnya terasa dekat adalah karena rumah yang digambarkan tidak mewah, tidak angker secara berlebihan. Ia terasa seperti rumah keluarga mana pun di Indonesia. Ada perabot yang sudah tua, ada kabel yang berantakan, ada ruang yang pengap. Penonton bisa membayangkan dirinya berada di sana. Dari situ, ketakutan bekerja tanpa perlu banyak kejutan murahan.

Pengabdi Setan juga memakai unsur keagamaan dan sekte sebagai bahan bakar. Tapi ia tidak menjelaskannya berlebihan. Ia cukup menaruh simbol, ritual, dan bisikan yang membuat kita merasa ada sesuatu yang lebih besar sedang berjalan di balik semua kejadian. Penonton dibiarkan menyusun sendiri sebagian besar rasa takutnya. Itu pilihan yang berani.

Perempuan Tanah Jahanam dan Kutukan dari Desa yang Tak Mau Lupa

Beda halnya dengan Perempuan Tanah Jahanam. Film ini tidak menakut-nakuti lewat ruang sempit, tapi lewat ruang terbuka. Sawah, jalan tanah, rumah panggung yang sudah lapuk, dan penduduk yang senyumnya tidak pernah benar-benar tulus. Terornya bukan dari sesuatu yang masuk ke rumah, tapi dari kesadaran bahwa kita sedang berada di tempat yang tidak menginginkan kita di sana.

Folk horror, dalam banyak contoh dunia, memang sering berurusan dengan komunitas tertutup yang memegang aturan lama. Perempuan Tanah Jahanam memainkan pola itu dengan sangat pas untuk konteks Indonesia. Ada utang yang diwariskan, ada rahasia yang dijaga turun-temurun, dan ada harga yang harus dibayar oleh orang yang tidak tahu apa-apa. Semua itu terasa masuk akal karena kita pernah mendengar cerita serupa dari kakek-nenek kita sendiri.

Yang menarik, film ini tidak menempatkan penduduk desa sebagai sekadar kumpulan orang jahat. Mereka punya logika, punya alasan, punya ketakutan sendiri. Justru karena itu, mereka terasa jauh lebih menyeramkan daripada hantu mana pun. Kita bisa memahami kenapa mereka melakukan hal mengerikan, dan itu membuat kita tidak nyaman.

Apa yang Membuat Keduanya Terasa Khas Indonesia

Kalau dibandingkan, ada beberapa hal yang membuat dua film ini terasa jalin-menjalin sebagai bagian dari folk horror Indonesia.

  • Kepercayaan yang tidak dijelaskan habis. Keduanya membiarkan sebagian mitos tetap kabur. Penonton tidak diberi manual lengkap soal aturan dunia mereka.
  • Keluarga sebagai pusat. Baik di rumah sakit di Pengabdi Setan maupun di kampung halaman di Perempuan Tanah Jahanam, yang dipertaruhkan selalu soal keluarga dan asal-usul.
  • Suara dan keheningan. Keduanya paham bahwa diam beberapa detik lebih menakutkan daripada musik yang dipaksa menegangkan.
  • Wajah-wajah biasa. Tidak ada pahlawan super. Semua orang terlihat seperti orang yang kita temui di pasar.

Dari daftar itu, kita bisa melihat bahwa horor yang berakar pada budaya lokal tidak harus bergantung pada hantu berwujud. Ia bisa bekerja lewat suasana, kebiasaan, dan hal-hal yang kita anggap wajar sampai sesuatu membuatnya terasa salah.

Bedanya Terasa di Cara Penonton Diposisikan

Di Pengabdi Setan, kita diajak masuk ke dalam keluarga. Kita ikut merasakan panik anak-anak yang tidak tahu harus berbuat apa. Kita jadi bagian dari mereka.

Di Perempuan Tanah Jahanam, kita ditempatkan sebagai orang luar. Kita datang bersama tokoh utama ke desa yang asing, dan sama-sama tidak tahu aturan mainnya. Ketakutan yang muncul bukan karena kita kehilangan sesuatu, tapi karena kita tidak pernah punya apa pun di tempat itu sejak awal.

Dua posisi ini menghasilkan rasa horor yang berbeda. Yang satu mengiris dari dalam, yang satu menekan dari luar. Sebagai penonton, kita mendapat dua pengalaman yang sama-sama sah.

Kenapa Perbandingan Ini Berguna untuk Penonton Film Horor

Banyak orang mengira horor Indonesia hanya soal jump scare dan hantu berteriak. Dua film ini membuktikan sebaliknya. Mereka menunjukkan bahwa bahan yang kita punya, mulai dari kepercayaan kampung sampai cerita keluarga, cukup kuat untuk membangun ketakutan yang bertahan lama di kepala.

Kalau Anda ingin menonton horor yang tidak hanya mengagetkan, mulailah memperhatikan dari mana rasa takut itu datang. Apakah dari kamar sebelah, atau dari jalan yang harus Anda lewati untuk pulang. Dari situ, Anda akan menikmati film horor dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar menunggu kapan hantunya muncul, tapi memahami mengapa kita takut sejak adegan pertama.

Pengabdi Setan dan Perempuan Tanah Jahanam adalah dua pintu masuk yang bagus untuk itu. Bukan karena keduanya sempurna, tapi karena keduanya berani mengangkat hal-hal yang sudah lama ada di sekitar kita dan menjadikannya sumber ketakutan yang jujur.

Iklan

Artikel Lainnya