Dunia Film, Anime, dan Tontonan Dewasa dalam Satu Ulasan
Iklan
Film

Joker Folie à Deux Bukan Kisah Antihero Musikal

Folie à Deux mengubah Arthur Fleck jadi penyanyi di kepalanya sendiri, tapi menolak mengangkatnya jadi antihero yang kita dambakan. Analisis ini membedah bagaimana musik, Lee, dan ruang sidang membongkar ulang sosok Joker yang selama ini kita banggakan.

Joker Folie à Deux Bukan Kisah Antihero Musikal

Ada satu hal yang sering luput saat orang membahas Joker: Folie à Deux. Film ini bukan kelanjutan dari mitos Joker yang kita bangun sendiri di kepala. Todd Phillips dan Joaquin Phoenix justru mengambil sosok yang di film pertama telanjur diangkat jadi ikon perlawanan, lalu menurunkannya kembali ke tanah. Arthur Fleck tidak pernah nyaman jadi lambang, dan di sekuel ini ketidaknyamanan itu diubah jadi bentuk yang lebih ganjil lagi: musikal.

Bagi sebagian penonton, pilihan itu terasa aneh. Bagi saya, justru di situ film ini menemukan suaranya. Kalau kamu datang mengharapkan Arthur yang bangkit, menari, lalu membalas dunia dengan kejam, kamu akan pulang dengan rasa tidak nyaman. Dan rasa tidak nyaman itu memang disengaja.

Arthur Bukan Antihero yang Sedang Kita Tunggu

Antihero punya satu syarat tak tertulis. Ia boleh salah, boleh kejam, tapi harus punya kendali. Batman boleh main hakim sendiri karena ia tahu apa yang ia lakukan. Walter White jatuh perlahan tapi selalu punya alasan yang ia percaya sendiri. Arthur Fleck tidak punya keduanya.

Iklan

Di Folie à Deux, ia bahkan lebih pasif dari film pertama. Ia digiring pengacara, digiring Lee, digiring penjaga Arkham, digiring kamera televisi. Hampir setiap keputusan besar di hidupnya diambil orang lain, atau diambil oleh versi dirinya yang cuma hidup di kepalanya. Kalau di film pertama ia setidaknya jadi pusat dari kekerasan yang ia picu, di sini ia lebih sering jadi penonton bagi hidupnya sendiri.

Itu sebabnya menyebut Arthur sebagai antihero musikal terasa setengah benar. Ia memang punya estetika antihero: sendirian, terluka, melawan sistem yang tidak pernah adil padanya. Tapi ia tidak punya satu hal yang membuat antihero berfungsi, yaitu kehendak untuk mengambil alih cerita.

Musik sebagai Ruang Kabur, Bukan Panggung Kemenangan

Dalam musikal klasik, lagu adalah momen ketika karakter akhirnya mengucapkan apa yang tidak bisa ia katakan. Lagu adalah kemajuan. Di Folie à Deux, logika itu dibalik. Lagu-lagu di film ini bukan kemajuan, melainkan tempat bersembunyi.

Perhatikan kapan nyanyian muncul. Arthur menyanyi saat ia diinterogasi, saat ia duduk di ruang sidang, saat ia berada di antara orang banyak yang menganggapnya tontonan. Ia tidak menyanyi untuk mengubah keadaan, ia menyanyi untuk keluar sebentar dari keadaan itu. Beberapa lagu yang dipakai adalah standar populer lawas yang sudah puluhan tahun umurnya, dan pilihan itu masuk akal: Arthur memang hidup di kepala orang lain, bukan di kepalanya sendiri.

  • Musik sebagai pelarian. Saat kenyataan terlalu berat, Arthur menggantinya dengan versi yang ia bisa kendalikan.
  • Musik sebagai jembatan ke Lee. Duet mereka bukan tentang cinta yang tumbuh, tapi tentang dua orang yang sepakat memakai fantasi yang sama.
  • Musik sebagai pengganti tindakan. Selama ia bernyanyi, ia tidak perlu memutuskan apa pun. Dan itu justru masalahnya.

Kalau kamu menontonnya sebagai musikal, kamu akan merasa lagunya terlalu sering dipotong, terlalu datar, tidak pernah meledak. Tapi itu memang titiknya. Lagu-lagu ini tidak dirancang untuk meledak, karena Arthur sendiri tidak pernah meledak lagi. Ledakan itu sudah terjadi di film pertama, dan hasilnya tidak membebaskannya sama sekali.

Lee Quinzel dan Cermin yang Retak

Lady Gaga membawa Lee Quinzel masuk sebagai pengagum yang melihat Joker di diri Arthur, lalu mendorongnya untuk terus memakai topeng itu. Yang menarik, Lee bukan pendamping yang membuat Arthur tumbuh. Ia adalah cermin yang memantulkan versi Arthur yang paling tidak ia butuhkan.

Hubungan mereka dibangun di atas kesepakatan yang tidak pernah diucapkan: mari kita sama-sama pura-pura ini adalah kisah cinta yang besar. Selama mereka bernyanyi bersama, pura-pura itu bertahan. Begitu salah satu berhenti berpura-pura, seluruh gedungnya runtuh.

Di sini karakter Lee jadi jauh lebih tajam daripada sekadar love interest. Ia menunjukkan bahwa persona Joker bukan kekuatan yang lahir dari dalam Arthur, melainkan sesuatu yang disuntikkan orang lain kepadanya, termasuk oleh orang yang katanya mencintainya.

Ruang Sidang sebagai Panggung Terakhir

Bagian paling jujur dari film ini terjadi di ruang sidang. Di situ Arthur bukan lagi tokoh yang punya panggung megah, melainkan seorang terdakwa yang harus menjelaskan siapa dirinya di depan orang-orang yang sejak awal sudah memutuskan jawabannya.

Dan ketika ia akhirnya memilih untuk mengakui bahwa Joker tidak pernah ada, film ini melakukan hal yang jarang dilakukan sekuel: ia membuang aset paling berharganya sendiri. Semua yang membuat penonton jatuh cinta di film pertama, tarian di tangga, tawa yang mengganggu, kepercayaan diri yang ganjil, di sini diakui sebagai kostum.

Banyak yang merasa ending-nya kejam dan tidak adil. Saya justru melihatnya sebagai satu-satunya akhir yang konsisten. Arthur bukan pahlawan yang dikalahkan sistem, ia adalah orang biasa yang kelelahan memerankan sesuatu yang bukan dirinya, dan dunia tetap menuntut ia terus memerankannya.

Jadi, Seberapa Antihero Arthur Sebenarnya

Kalau definisi antihero adalah tokoh yang melawan tatanan dengan cara-cara kotor tapi tetap kita dukung, maka Arthur gagal memenuhi syarat itu di sekuel ini. Ia tidak melawan apa pun. Ia hanya bertahan, dan bahkan itu pun tidak berhasil.

Tapi kalau kita mau sedikit lebih jujur, Folie à Deux sedang mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman: apakah kita menyukai Arthur karena ia berontak, atau karena kita senang melihat seseorang yang lebih hancur dari kita? Film ini memaksa kita menghadapi kemungkinan kedua, dan itu sebabnya ia terasa seperti tamparan, bukan hiburan.

Yang Sebenarnya Ditawarkan Folie à Deux

Judulnya sendiri sudah memberi petunjuk. Folie à deux adalah istilah untuk gangguan delusi yang dialami dua orang atau lebih secara bersamaan. Arthur dan Lee. Arthur dan penontonnya. Arthur dan versi dirinya yang ia bangun dari potongan-potongan film, televisi, dan nyanyian lama.

Dibaca sebagai analisis karakter, Folie à Deux bukan kegagalan, melainkan pembongkaran. Ia mengambil antihero musikal yang kita pesan, menunjukkan bahwa fondasinya cuma khayalan bersama, lalu membiarkan kita duduk dengan rasa kecewa itu.

Kalau kamu menontonnya lagi dengan ekspektasi yang berbeda, film ini akan terasa jauh lebih rapi. Bukan karena ia jadi lebih ramah, tapi karena kamu akhirnya tahu siapa yang sedang kamu tonton: bukan Joker, cuma Arthur.

Iklan

Artikel Lainnya