Dunia Film, Anime, dan Tontonan Dewasa dalam Satu Ulasan
Iklan
Ulasan

Kenapa Siksa Kubur Lebih dari Sekadar Film Horor?

Joko Anwar kembali dengan Siksa Kubur, film yang memakai teror religius sebagai pintu masuk kritik sosial. Ulasan ini membahas apa yang membuatnya lebih dari sekadar horor, dan kenapa pesannya terasa relevan untuk penonton dewasa.

Kenapa Siksa Kubur Lebih dari Sekadar Film Horor?

Ancaman Kubur sebagai Alat, Bukan Sekadar Mitos

Ada satu hal yang jarang dibahas saat orang membicarakan Siksa Kubur: film ini tidak benar-benar menjual hantu. Ia menjual rasa takut yang sudah ditanamkan sejak kecil kepada kita — takut pada azab setelah mati, takut pada dosa yang katanya belum terbayar.

Joko Anwar tahu betul titik itu. Alih-alih menguras jumpscare dari awal sampai akhir, ia membangun ketegangan dari pertanyaan yang jauh lebih mengganggu: kalau siksaan kubur itu nyata, kenapa yang paling sering meneriakannya justru orang-orang yang perilakunya paling jauh dari ajaran yang mereka kutip?

Sita dan Luka yang Tidak Selesai

Tokoh utamanya, Sita, diperankan dengan dingin oleh Faradina Mufti. Masa kecilnya runtuh ketika kedua orang tuanya tewas dalam aksi bom yang dibawa atas nama agama. Sejak itu ia memilih jalur sebaliknya: menolak percaya, dan diam-diam bertekad membuktikan bahwa siksa kubur cuma dongeng untuk menakuti orang agar patuh.

Iklan

Kita melihat versi kecil Sita lewat Widuri Puteri, dan bagian inilah yang paling menyakitkan. Bukan karena adegannya berdarah-darah, tapi karena kita tahu anak sekecil itu sedang belajar bahwa Tuhan yang diajarkan padanya bisa dipakai orang untuk saling membunuh.

Dari situ, film bergerak ke pekerjaan Sita yang berurusan langsung dengan jasad. Pilihan profesi ini bukan kebetulan. Setiap mayat yang ia tangani membawa cerita tentang orang yang semasa hidupnya sibuk menghakimi, sibuk tampil saleh, sibuk mengurusi dosa orang lain — sementara dosanya sendiri tidak pernah ia sentuh.

Kritik Sosial yang Diselipkan Tanpa Dikotbahkan

Di sinilah Siksa Kubur jadi menarik. Ia tidak pernah berdiri di mimbar dan menjelaskan pesannya. Ia cukup menaruh cermin, lalu membiarkan kita menatapnya sendiri.

  • Agama sebagai komoditas. Sosok yang diperankan Reza Rahadian mewakili tipe yang akrab di sekitar kita — figur yang mengelola iman seperti bisnis, menjual khotbah, dan mengumpulkan pengikut dari rasa takut orang lain.
  • Kekerasan atas nama keyakinan. Bom yang merenggut orang tua Sita bukan kejadian asing. Film ini menolak memperlakukannya sebagai sekadar latar belakang cerita.
  • Kemunafikan di ruang privat. Ada pula sosok ibu yang tampil alim di depan orang banyak, tapi kasar terhadap anak tirinya di dalam rumah. Happy Salma memerankan tipe ini dengan sangat tidak nyaman untuk ditonton.

Yang membuat kritiknya terasa, film ini tidak menghakimi satu kelompok agama tertentu. Ia menyerang pola: cara orang memakai nama Tuhan untuk mengontrol, menakut-nakuti, dan menutupi kebusukan sendiri. Itu pesan yang berlaku di mana saja.

Teror Religius yang Bekerja di Kepala, Bukan di Layar

Secara teknis, Siksa Kubur rapi. Suasananya kelam, tata suaranya menekan, dan Joko Anwar pandai menahan informasi supaya kita terus bertanya. Tapi kekuatan sebenarnya ada di kepala penonton.

Karena apa pun keyakinan kita, hampir semua dari kita pernah tumbuh dengan cerita tentang siksa setelah mati. Entah dari sekolah, dari keluarga, atau dari ceramah yang didengar sambil setengah tidur. Film ini menyentuh kabel itu dan menyalakannya kembali.

Efeknya berbeda untuk tiap orang. Yang percaya akan merasa diingatkan. Yang meragukan akan merasa divalidasi. Yang di tengah-tengah akan keluar bioskop dengan pertanyaan yang tidak gampang dijawab.

Kenapa Penonton Dewasa Perlu Menontonnya

Ini bukan tontonan ringan untuk akhir pekan santai. Temanya berat: kematian, kekerasan, kemunafikan, dan cara agama dipakai sebagai senjata. Ada alasan film ini lebih pantas disandingkan dengan drama psikologis ketimbang horor remaja.

Untuk penonton dewasa, daya tariknya justru di situ. Siksa Kubur tidak menawarkan pelarian. Ia menawarkan percakapan — dengan diri sendiri, atau dengan orang di sebelah kita setelah lampu menyala.

Christine Hakim dan Slamet Rahardjo yang muncul di bagian-bagian tertentu menambah bobot film ini. Kehadiran mereka seperti pengingat bahwa cerita tentang takut mati bukan cerita baru, dan selalu ada lapisan yang belum selesai dibicarakan.

Catatan Sebelum Menonton

Kalau kamu datang mengharapkan hantu melompat dari balik pintu setiap lima menit, kamu mungkin akan sedikit bosan di paruh awal. Siksa Kubur lebih memilih membangun perasaan tidak nyaman yang menumpuk pelan-pelan.

Tapi kalau kamu siap dengan film yang memakai horor sebagai cara bicara soal hal-hal yang lebih besar, ini salah satu yang layak disimak. Bukan karena ia menakut-nakuti, tapi karena ia berani menanyakan hal yang sering kita hindari.

Dan pertanyaan yang ditinggalkan film ini setelah kredit penutup justru yang paling mengganggu: apakah yang sebenarnya kita takuti adalah siksa setelah mati, atau kenyataan bahwa selama hidup kita sering memakai nama Tuhan untuk hal-hal yang sama sekali tidak suci?

Iklan

Artikel Lainnya