Dunia Film, Anime, dan Tontonan Dewasa dalam Satu Ulasan
Iklan
Film

Membedah Teror Kecantikan Lewat Editing dan Suara The Substance

Editing dan sound design di The Substance bukan sekadar pelengkap. Keduanya yang membuat satir kecantikan terasa menyiksa, lucu, dan personal. Ini yang perlu kamu perhatikan dengan jeli saat menontonnya ulang.

Membedah Teror Kecantikan Lewat Editing dan Suara The Substance

Ada momen di The Substance ketika kamu sadar sedang menikmati sesuatu yang seharusnya bikin mual. Kamera menempel di luka, jarum, dan kulit yang perlahan rusak, tapi mata kita tetap betah menatap layar. Di situ letak kecerdasan film garapan Coralie Fargeat ini. Ia tidak cuma bercerita soal obsesi kecantikan, ia menyeret penonton masuk ke dalamnya.

Yang sering luput dibahas adalah bagaimana film ini mencapai efek tersebut. Banyak orang menyebut prostetik dan efek praktisnya, yang memang bekerja sampai membawa pulang Oscar untuk tata rias dan tata rambut. Tapi dua elemen yang justru mengikat semuanya adalah editing dan sound design. Keduanya yang membuat tubuh terasa retak, satirnya terasa getir, dan leluconnya terasa menyakitkan.

Editing yang Menyusun Ritual, Bukan Sekadar Adegan

The Substance punya pola yang jelas kalau kamu perhatikan: repetisi. Suntikan yang sama, hitungan yang sama, rutinitas pagi yang sama, wajah yang selalu berhadapan dengan cermin. Fargeat memotong adegan-adegan itu dengan irama yang hampir seperti ritual, bukan narasi biasa. Tubuh Elisabeth diperlakukan seperti proses produksi: dibersihkan, diisi, dikemas, lalu ditampilkan.

Iklan

Yang bikin editing-nya terasa menekan adalah ketiadaan jeda. Transformasi dipecah dalam potongan-potongan pendek, kadang cuma beberapa frame, sampai mata kita tidak sempat bernapas. Ketika akhirnya ada adegan yang dibiarkan tenang dan panjang, ketenangan itu justru terasa mengancam. Kita menunggu sesuatu yang buruk terjadi, dan film tahu kita sedang menunggu.

Ada juga permainan kontras antar ruang. Studio televisi digambarkan dengan warna menyala dan gerakan yang terus berdenyut, sementara apartemen Elisabeth terasa dingin, luas, dan kosong. Perpindahan cepat antara dua dunia itu membuat kesepiannya terasa lebih keras daripada kalau dijelaskan lewat dialog.

Sound Design yang Membuat Kulit Ikut Terasa Sakit

Kalau ada satu hal yang membuat The Substance sulit dilupakan, itu suaranya. Film ini memperlakukan tubuh manusia seperti mesin basah. Cairan yang disedot, jarum yang menembus kulit, daging yang diregangkan, sendi yang berbunyi. Semuanya direkam dari jarak dekat dan dinaikkan volumenya sampai terasa berlebihan.

Berlebihan memang sengaja. Suara-suara itu tidak realistis, dan justru karena itu efektif. Kita tidak sedang mendengar tubuh yang nyata, kita sedang mendengar tubuh yang dibayangkan oleh obsesi. Kalau editing memberi kita ritme, sound design memberi kita rasa sakitnya.

Menariknya, film ini juga tahu kapan harus diam. Ada adegan di mana musik yang berdenyut ditarik keluar, dan yang tersisa hanya napas, langkah kaki, atau kesunyian kamar. Jeda semacam ini bekerja seperti tarikan napas sebelum pukulan.

Komedi dan Horor yang Dipisahkan Satu Potongan

The Substance adalah film yang lucu, dan itu bagian penting dari satirenya. Karakter produser yang diperankan Dennis Quaid, misalnya, digambarkan begitu berlebihan sampai terasa seperti kartun. Cara ia makan, cara ia bicara, cara kamera mendekat ke wajahnya. Semua dipakai untuk menertawakan industri yang menjual tubuh orang lain.

Tapi lelucon itu tidak pernah dibiarkan berdiri sendiri. Editing memotong tawa kita dengan cepat, kadang hanya beberapa detik setelahnya, dan mengembalikan kita ke tubuh yang rusak. Pergantian mendadak itulah yang membuat film ini terasa seperti dilema, bukan sekadar tontonan. Kita tidak pernah bisa tenang menertawakan atau menangisi satu hal terlalu lama.

Satire yang Menyeret Penonton Jadi Pelaku

Bagian paling tidak nyaman dari The Substance bukan adegan ekstremnya. Bagian paling tidak nyaman adalah kenyataan bahwa kita menontonnya sampai habis. Kamera Fargeat memperlakukan sosok Sue dengan cara yang sama seperti industri memperlakukan Elisabeth: mengagumi, memamerkan, lalu menuntut lebih.

Editing dan sound design jadi alat untuk menyadarkan kita soal itu. Setiap kali kita menikmati momen Sue bersinar, film mengingatkan bahwa kita sedang ikut mengonsumsi. Setiap kali kita meringis melihat tubuh yang rusak, film menanyakan kenapa kita tetap menonton. Satirnya tidak hanya diarahkan ke Hollywood atau industri kecantikan, tapi juga ke kursi tempat kita duduk.

Yang Bisa Kamu Perhatikan saat Menonton Ulang

  • Perhatikan kapan musik berhenti. Hampir selalu ada alasan, dan biasanya bukan alasan yang nyaman.
  • Hitung berapa kali adegan rutin diulang dengan potongan yang sama. Repetisi itu yang membangun rasa terjebak.
  • Cermati perbedaan warna dan tempo antara studio TV dan apartemen Elisabeth. Dua dunia itu tidak pernah benar-benar bertemu.
  • Dengarkan suara-suara tubuh yang terasa berlebihan. Itu bukan kekeliruan, itu cara film menyalakan rasa mual.
  • Amati bagaimana tawa muncul dan seberapa cepat ia dipotong. Di situ letak satire yang paling tajam.

The Substance bukan film yang ingin membuatmu merasa nyaman, dan itu bukan kebetulan. Editing dan sound design-nya dirancang supaya kita ikut merasakan tuntutan yang sama seperti yang menghancurkan tokoh utamanya. Setelah menontonnya, suara jarum dan kulit yang diregangkan akan tinggal lebih lama daripada adegannya sendiri. Mungkin itu memang hukuman yang pantas bagi kita yang menonton.

Iklan

Artikel Lainnya