Perfect Days (2023) karya Wim Wenders dan Paterson (2016) karya Jim Jarmusch sering dibaca sebagai dua film tentang rutinitas yang tenang. Tapi ada lapisan lain yang jarang dibahas: keduanya adalah film tentang persahabatan pria yang hampir tidak pernah memakai kata "sahabat". Tidak ada pelukan lama, tidak ada curahan hati berjam-jam, tidak ada adegan mabuk bersama yang berakhir dengan tangis. Persahabatan di dua film ini bekerja lewat ritme, tempat, dan gestur kecil yang berulang.
Rutinitas Bukan Musuh Keintiman
Hirayama (Kōji Yakusho) bangun sebelum matahari, melipat futon, menyikat gigi, membeli kopi dari mesin otomatis, lalu menyetir van kecilnya ke toilet umum di kawasan Sumida, Tokyo. Ia menyapu, mengelap, membersihkan cermin, dan sesekali mengagumi bayangan cahaya di dinding. Di sela itu ia memotret pohon dengan kamera film, mendengar kaset Lou Reed dan Patti Smith, dan membaca buku di bangku taman. Di malam hari ia mandi di sento, makan di kedai kecil, lalu tidur dengan buku di dada.
Di permukaan, jadwal itu tampak seperti pengasingan diri. Tapi justru karena rutinitasnya stabil, orang lain tahu kapan dan di mana bisa menemukannya. Takashi, rekan kerja yang lebih muda, muncul di jam kerja untuk meminjam uang dan bercerita soal perempuan. Niko, keponakannya, datang tanpa janji dan tidur di lantai kamarnya. Pemilik kedai yang ia sebut Mama menyiapkan minuman yang sama setiap malam. Rutinitas di Perfect Days berfungsi sebagai kalender sosial yang tidak menuntut apa pun.
Hal serupa terjadi pada Paterson (Adam Driver). Ia menyetir bus nomor 23 di kota Paterson, New Jersey, dengan rute yang sama setiap hari. Ia mendengar penumpang mengobrol tentang hal-hal yang tidak pernah selesai, menulis puisi di buku tulis kecil saat istirahat, makan siang di kotak makan yang disiapkan istrinya, lalu pulang melewati air terjun Great Falls. Malamnya ia berjalan ke bar Doc, tempat yang selalu sama, dengan orang yang selalu sama.
Rutinitas di dua film ini bukan pengulangan yang membosankan, melainkan prasyarat pertemuan. Pertemanan tidak dibangun lewat janji "kita harus ketemu sometime", tapi lewat kepastian bahwa seseorang akan ada di tempat yang sama pada jam yang sama.
Kota yang Menyediakan Ruang untuk Diam
Sosiolog Ray Oldenburg menyebut kafe, bar, taman, dan salon sebagai third place: ruang di luar rumah dan kantor tempat orang bisa berkumpul tanpa agenda. Dua film ini adalah katalog third place kelas pekerja. Toilet umum, laundromat, sento, kedai malam, dan bangku taman di Tokyo. Depo bus, bar Doc, dan tepi Sungai Passaic di Paterson.
Yang menarik, kedua kota digambarkan dengan kecepatan yang berlawanan dari tokohnya. Tokyo di Perfect Days berdenyut cepat: gedung kaca, lalu lintas padat, keramaian Shibuya yang sesekali melintas di layar. Hirayama bergerak lambat di dalamnya, dan justru kelambatan itulah yang membuat kota terasa bisa ditinggali. Sementara Paterson adalah kota kecil yang tenang, tapi Paterson sendiri terkurung dalam kotak bus dan rute yang sama. Ia tinggal di kota yang katanya penuh puisi, tapi perlu waktu lama untuk menyadari bahwa puisinya ada di sekitar.
Kota sebagai Rekan Bicara
Keduanya juga memberi kota semacam biografi kecil. Hirayama memotret pohon-pohon yang sama berulang kali, seolah mencatat musim sebagai bentuk komunikasi dengan tempatnya tinggal. Paterson menulis tentang air terjun, tentang William Carlos Williams yang menulis puisi panjang berjudul "Paterson", tentang istrinya, tentang hal-hal yang tidak istimewa. Kota bukan latar, tapi lawan bicara yang tidak pernah menyela.
Koneksi Kecil yang Lebih Jujur dari Percakapan Besar
Kalau kita cari adegan "persahabatan" secara konvensional, dua film ini nyaris kosong. Tapi justru di situlah kekuatannya. Koneksi kecil di sini bukan versi murah dari koneksi besar; ia punya bentuknya sendiri.
- Uang yang diberikan tanpa ceramah. Hirayama memberi Takashi uang, mendengarkan celotehnya, lalu kembali bekerja. Tidak ada nasihat moral, tidak ada penghakiman. Yang ada hanya kehadiran yang tidak menuntut balasan.
- Permainan bayangan. Saat Niko ikut bermain shadow tag di jalan, Hirayama ikut serta dengan canggung dan senang. Tidak ada dialog penting di adegan itu, tapi kehangatan keluarga kecil terasa penuh.
- Rokok dan bir bersama orang asing. Di tepi sungai, Hirayama berbagi minuman dan rokok dengan mantan suami Mama yang sedang sakit. Dua pria yang tidak punya alasan untuk akrab justru duduk berdampingan dalam diam yang tidak canggung.
- Buku tulis kosong. Di akhir Paterson, seorang penyair Jepang (Masatoshi Nagase) yang ditemui di tepi air terjun memberi Paterson buku tulis kosong setelah buku lamanya hancur. Tidak ada penjelasan panjang. Hanya satu kalimat sederhana bahwa puisi bisa dimulai lagi.
Pola yang sama muncul di bar Doc. Doc menyimpan buku puisi Paterson di balik kasir, menanyakannya dengan nada santai, lalu tidak memaksa ketika Paterson menghindar. Persahabatan mereka berjalan di atas kebiasaan: gelas yang sama, kursi yang sama, jam yang sama. Tidak ada yang perlu dibuktikan.
Dua Bentuk Kesepian yang Berbeda
Meski sama-sama tenang, dua film ini tidak berbicara tentang kesepian yang identik. Hirayama tampak memilih hidup sendiri, dan pilihan itu tidak digambarkan sebagai tragedi. Ia punya masa lalu yang hanya menyembul lewat mimpi hitam-putih dan satu kalimat tentang ayahnya, tapi ia tidak terlihat kekurangan. Persahabatannya tersebar: rekan kerja, keponakan, pemilik kedai, orang asing di tepi sungai.
Paterson hidup dengan istri yang mencintainya, anjing yang menemaninya, dan pekerjaan yang stabil. Kesepiannya lebih halus: ia dikelilingi orang, tapi hanya sedikit yang benar-benar tahu isi kepalanya. Persahabatan prianya paling kentara justru di bar, bersama Doc dan Everett, dua pria yang juga menyimpan ambisi yang tidak sepenuhnya terwujud.
Keduanya juga berbagi satu hal yang jarang ditampilkan sinema arus utama: pria kelas pekerja dengan kehidupan batin yang kaya. Hirayama membaca Faulkner dan Highsmith, mendengar musik dengan khidmat. Paterson menulis puisi di sela shift. Tidak ada adegan yang meromantisasi kemiskinan; yang ditampilkan adalah bahwa kedalaman tidak butuh gelar.
Mengapa Kita Butuh Film Seperti Ini
Di zaman ketika pertemanan diukur lewat frekuensi balas chat, jumlah tagar di foto bersama, dan kehadiran di acara penting, Perfect Days dan Paterson menawarkan definisi yang hampir kuno tapi melegakan. Sahabat adalah orang yang tahu jadwalmu, yang menyimpan sesuatu untukmu di balik kasir, yang tidak kecewa kalau kamu hanya diam.
Kedua film ini tidak mengatakan bahwa percakapan panjang itu buruk. Yang mereka lakukan adalah mengingatkan bahwa kedekatan pria sering hidup di tempat lain: di rutinitas yang dibagi, di kota yang menyediakan bangku, dan di gestur kecil yang tidak pernah diberi nama. Persahabatan tidak selalu perlu diumumkan. Kadang ia cukup diulang.