Dunia Film, Anime, dan Tontonan Dewasa dalam Satu Ulasan
Iklan
Ulasan

5 Alasan The Boy and the Heron Bercerita soal Duka

Mahito kehilangan ibunya di awal film, dan The Boy and the Heron tidak pernah menjelaskannya lewat dialog. Duka itu muncul lewat api, air, dan dunia aneh di balik menara tua. Lima alasan kenapa cara bercerita seperti ini justru terasa lebih nyata.

5 Alasan The Boy and the Heron Bercerita soal Duka

Ada film yang menjelaskan dukanya lewat dialog panjang, kilas balik, atau monolog di depan cermin. The Boy and the Heron tidak melakukan satu pun dari itu. Setelah sepuluh tahun absen dari film panjang, Hayao Miyazaki memilih jalan yang lebih sulit: membiarkan duka terlihat, bukan terdengar.

Judul Jepangnya, Kimitachi wa Dō Ikiru ka, dipinjam dari novel Genzaburō Yoshino terbitan 1937. Buku itu muncul sebagai bacaan Mahito, bocah yang ibunya tewas dalam kebakaran rumah sakit di Tokyo di masa perang. Miyazaki tidak memakai novel itu sebagai peta cerita. Ia mengambil semangatnya, lalu membiarkan gambar yang berbicara. Hasilnya sebuah film yang terasa aneh, lambat, dan sering membingungkan — dan justru di situ kekuatannya.

1. Duka Diperlihatkan Lewat Gambar, Bukan Penjelasan

Sepuluh menit pertama sudah memberi tahu segalanya tanpa satu kalimat penjelas. Mahito berlari di tengah kobaran api, suara bangunan runtuh, dan tubuh kecilnya yang tidak sampai. Ia tidak menangis di depan kamera, tidak berteriak menyebut nama ibunya. Miyazaki hanya menunjukkan api, lalu memotong ke wajah Mahito yang kosong.

Iklan

Sesudah itu, duka Mahito muncul dalam bentuk yang lebih jujur daripada kata-kata. Ia jadi anak yang terlalu sopan. Ia diam di meja makan, menunduk saat ditanya, dan tersenyum pada saat yang salah. Orang di sekitarnya mengira ia baik-baik saja. Penonton tahu ia tidak. Cara film ini menahan informasi justru membuat kita ikut menahan napas.

Ada satu adegan yang menurut saya paling jujur soal kehilangan: ketika Mahito memukulkan batu ke kepalanya sendiri. Tidak ada penjelasan mengapa. Tidak ada yang bertanya. Luka itu hanya tinggal, berdarah, dan terus terlihat sampai akhir film. Duka memang begitu — ia menempel, bukan bercerita.

2. Api dan Air Jadi Bahasa Emosi Sepanjang Film

Miyazaki bukan orang yang suka menjelaskan simbolnya, tapi di film ini dua elemen terus kembali. Api selalu hadir sebagai kehilangan. Ia muncul di mimpi, di kenangan, di langit yang memerah. Setiap kali api muncul, Mahito mengecil, jadi bocah yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Air datang dengan nada berbeda. Ia lebih tenang, lebih dingin, dan sering jadi pintu menuju tempat lain. Beberapa motif visual yang terus berulang di sepanjang film:

  • Api yang tidak pernah benar-benar padam, bahkan saat Mahito sudah pindah ke desa.
  • Air yang memisahkan dunia nyata dari dunia di balik menara tua.
  • Bangau kelabu yang terus mengejar Mahito, setengah mengganggu, setengah menuntun.
  • Batu-batu yang disusun rapi, rapuh, dan mudah runtuh.

Kalau diperhatikan, keempatnya bukan alat plot. Mereka lebih seperti perasaan yang diberi bentuk. Penonton yang tidak menangkap maknanya tetap bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres di setiap kemunculannya.

3. Dunia di Balik Menara sebagai Ruang Berduka

Dunia lain dalam film ini tidak punya aturan yang jelas, dan itu memang tujuannya. Waktu di sana tidak lurus. Orang yang sudah mati bisa muncul dalam usia yang berbeda. Mahito bertemu Himi, gadis yang ternyata versi muda ibunya, dan bukannya mendapat penjelasan, ia justru mendapat lebih banyak pertanyaan.

Bagi saya, inilah gambaran duka yang paling jujur di film ini. Duka bukan ruangan yang rapi dengan pintu masuk dan pintu keluar. Ia tempat yang lantainya bergeser, dihuni burung-burung besar yang tidak peduli pada manusia, dan runtuh pelan-pelan tanpa memberi tahu kapan.

Miyazaki juga tidak menggambarkan dunia itu sebagai surga. Ada kekejaman di sana, ada rantai makanan, ada makhluk yang mati. Sama seperti kenyataan yang harus diterima Mahito: ibunya tidak akan kembali, dan tidak ada dunia ajaib yang bisa memperbaikinya.

4. Natsuko dan Pertanyaan soal Ibu yang Baru

Natsuko adalah adik ibu Mahito, dan ia menikah dengan ayah Mahito saat perang masih berjalan. Film ini tidak pernah meminta kita menghakimi situasi itu, juga tidak meminta kita menganggapnya wajar. Ia hanya menaruh Natsuko di sana, hamil, canggung, dan berusaha.

Yang menarik, Mahito tidak diminta untuk langsung menyayanginya. Tidak ada adegan rekonsiliasi yang manis. Ketika Natsuko menghilang ke hutan dan Mahito memutuskan mencarinya, motivasinya tetap kabur — apakah karena tanggung jawab, rasa bersalah, atau karena ia mulai peduli. Film ini membiarkan pertanyaan itu terbuka, dan menurut saya itu pilihan yang jauh lebih dewasa daripada memaksakan satu jawaban.

5. Akhir yang Menolak Menutup Semuanya

Menjelang akhir, sang paman tua menawarkan Mahito untuk mewarisi dunianya dan menyusun batu-batu itu menjadi tempat yang bebas dari kebencian. Mahito menolak. Alasannya sederhana dan menyakitkan: ia mengakui bahwa dirinya sendiri menyimpan kebencian. Ia melukai kepalanya dengan batu. Ia bukan anak yang suci.

Dunia itu pun runtuh, dan Mahito kembali ke dunia nyata bersama Natsuko. Tidak ada adegan yang menjelaskan bahwa semuanya sudah selesai. Tidak ada kalimat yang menjanjikan bahwa ia akan baik-baik saja. Kita hanya melihatnya bersiap pulang, membawa luka yang masih ada.

Banyak penonton keluar dari bioskop dengan rasa bingung, dan itu wajar. Film ini tidak dirancang untuk dipahami dalam sekali tonton. Ia dirancang untuk dirasakan, lalu dipikirkan lagi beberapa hari kemudian. Saya sendiri baru menangkap hubungan antara api di awal dan luka di kepala Mahito setelah menontonnya dua kali.

Kalau kamu datang mencari cerita yang rapi, film ini akan terasa menjengkelkan. Tapi kalau kamu pernah kehilangan seseorang dan tidak pernah benar-benar bisa menjelaskannya ke orang lain, cara Miyazaki bercerita mungkin terasa lebih tepat daripada kata-kata. Ia tidak menjelaskan duka. Ia membiarkan kita duduk di dalamnya.

Iklan

Artikel Lainnya