Dunia Film, Anime, dan Tontonan Dewasa dalam Satu Ulasan
Iklan
Ulasan

Kenapa Kekerasan di Seperti Dendam Terasa Begitu Nyata?

Edwin dan sinematografer Akiko Ashizawa tidak menjadikan kekerasan sebagai tontonan. Lewat komposisi, warna, bunyi, dan jeda, luka Ajo Kawir menempel di kulit penonton. Ini bedah cara filmnya bekerja sejak menit pertama.

Kenapa Kekerasan di Seperti Dendam Terasa Begitu Nyata?

Ada kekerasan yang justru terasa lebih keras ketika tidak diperlihatkan. Edwin tahu itu. Sepanjang Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, ia bersama sinematografer Akiko Ashizawa membangun dunia di mana pukulan paling menyakitkan sering datang dari ruang kosong di dalam bingkai.

Film yang diangkat dari novel Eka Kurniawan ini bukan laporan tentang kekerasan. Ia lebih mirip ingatan yang tidak bisa dibuang — kabur di beberapa bagian, terlalu tajam di bagian lain, dan selalu kembali ke luka yang sama. Ajo Kawir, laki-laki yang kehilangan gairahnya setelah menyaksikan kekerasan seksual di masa kecil, adalah pusat dari semua itu.

Kekerasan yang Lebih Sering Terjadi di Luar Bingkai

Sinema aksi umumnya ingin kita melihat semuanya. Kamera menempel, potongan cepat, darah diperlihatkan sampai detail. Edwin memilih arah sebaliknya. Banyak kekerasan dalam film ini terjadi tepat sebelum atau sesudah gambar dipotong, atau di tepi bingkai, di tempat yang tidak sepenuhnya kita lihat.

Iklan

Hasilnya aneh: kita merasa lebih dipukul daripada kalau melihatnya langsung. Sebab yang bekerja bukan lagi mata, tapi kepala kita sendiri yang mengisi kekosongan itu.

Ada pola yang berulang. Kamera sering bertahan pada wajah, pada punggung, pada kaki yang berdiri di tanah berdebu, sementara bunyi pukulan datang dari luar frame. Kita tidak menyaksikan kekerasan; kita menyaksikan akibatnya. Tubuh yang lemas, tatapan yang kosong, diam yang terlalu panjang.

Pilihan ini bukan sekadar gaya. Ia menyimpan sikap: bahwa kekerasan bukan tontonan, melainkan sesuatu yang menempel pada orang yang melihatnya.

Warna dan Cahaya yang Membuat Masa Lalu Terasa Lengket

Edwin dan Ashizawa membangun rasa tahun 80-an tanpa harus berteriak. Warnanya jenuh, kadang terlalu hangat, kadang terlalu gelap. Malam terasa basah. Siang terasa berdebu. Kulit berkeringat, dan lampu neon di ruang-ruang sempit memberi kesan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar bersih di dunia ini.

Yang menarik, kekerasan di film ini tidak selalu datang lewat adegan gelap. Justru banyak yang terjadi di bawah cahaya terang, di tempat terbuka, di siang hari. Kontras itu membuatnya terasa lebih mengganggu. Kejahatan tidak bersembunyi di sudut gelap; ia berjalan santai di jalan raya.

Ada juga kesan teater. Beberapa ruang terasa seperti panggung, dengan komposisi yang sengaja rapi dan simetris. Kamera kadang seperti menonton dari kursi penonton, memberi jarak, tidak ikut masuk ke dalam kekacauan. Jarak itu bukan kedinginan. Ia semacam kejujuran: bahwa kita memang hanya bisa menonton, dan itu menyakitkan.

Silat sebagai Bahasa Tubuh, Bukan Sekadar Koreografi

Seperti Dendam adalah film silat, tapi bukan film silat yang biasa kita kenal. Pertarungannya tidak dibangun untuk membuat kita bersorak. Ia dibangun untuk menunjukkan bagaimana laki-laki bicara satu sama lain ketika kata-kata sudah tidak cukup.

Perhatikan cara kamera memotret tubuh dalam adegan-adegan itu. Ada kalanya ia mundur, memberi ruang, membiarkan kita melihat dua tubuh yang bergerak seperti sedang berdebat. Ada kalanya ia diam di satu titik dan membiarkan gerakan terjadi di dalam bingkai, tanpa potongan cepat. Tidak ada usaha untuk membuat kita kagum pada tekniknya. Yang tersisa hanya kelelahan, marah, dan sesuatu yang mirip keputusasaan.

Di sini kekerasan berfungsi sebagai bahasa. Ia menggantikan percakapan, menggantikan kelembutan, menggantikan semua hal yang tidak pernah bisa diucapkan Ajo Kawir. Dan seperti bahasa pada umumnya, ia tidak selalu berhasil menyampaikan apa yang dimaksud.

Bunyi dan Keheningan yang Sama-Sama Menghantam

Kalau ada satu hal yang membuat sinematografi film ini bekerja, itu adalah cara bunyi dipakai. Sebelum pukulan datang, sering ada jeda. Sunyi yang terlalu panjang. Lalu suara — keras, kasar, tanpa hiasan.

Musik nyaris tidak dipakai untuk memandu perasaan kita. Tidak ada dawai yang menegang saat ada yang sekarat. Yang ada justru suara sekitar: angin, langkah, napas, mesin, keramaian yang jauh. Pendekatan ini membuat kekerasan terasa tidak punya bingkai pelindung. Ia terjadi di dunia yang sama dengan kita.

Keheningan juga dipakai untuk hal lain. Setelah kekerasan berlalu, kamera sering tinggal sebentar pada apa yang tersisa. Sebuah kursi kosong. Sebuah jalan yang baru saja dilalui. Jeda itu yang membuat luka terasa benar-benar mengendap.

Kamera yang Menyaksikan Tanpa Membela

Yang membuat film ini berbeda dari banyak cerita balas dendam adalah sikapnya terhadap kekerasan itu sendiri. Ia tidak merayakannya. Ia juga tidak menghakimi dengan mudah. Kamera hanya bertahan, menonton, dan membiarkan penonton menyelesaikan sisanya.

Ini pilihan yang berani, karena berarti film menolak memberi kita rasa lega. Dendam dalam judulnya bukan janji penyelesaian. Ia lebih seperti beban yang diwariskan dari satu laki-laki ke laki-laki lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa pernah benar-benar selesai.

Ajo Kawir sendiri adalah bukti hidup dari itu. Tubuhnya menyimpan kekerasan yang ia lihat saat kecil, dan kekerasan itu keluar lagi lewat tangannya sendiri. Lingkaran ini tidak diputus oleh kamera. Ia hanya direkam, dengan sabar, sampai kita sadar bahwa kita sedang melihat sesuatu yang tidak akan berhenti hanya karena filmnya habis.

Kenapa Cara Ini Bekerja

Banyak film yang mencoba mengkritik kekerasan, tapi akhirnya justru menjualnya. Seperti Dendam menghindari jebakan itu dengan cara yang sederhana: ia tidak membuat kekerasan terlihat keren.

Kamera tidak memperlambat gerakan agar pukulan terlihat gagah. Tidak ada sorotan dramatis saat senjata terangkat. Tidak ada kemenangan yang terasa manis. Yang ada hanya tubuh-tubuh yang lelah, wajah-wajah yang tidak pernah benar-benar tenang, dan ruang-ruang yang tetap sama setelah semuanya selesai.

Di situlah letak kekuatan sinematografinya. Ia tidak menjelaskan apa itu kekerasan. Ia membuat kita merasakannya, sedikit demi sedikit, lewat apa yang ditahan, apa yang ditampakkan, dan berapa lama kamera bersedia tinggal.

Dan seperti rindu yang harus dibayar tuntas, film ini menagih sesuatu dari penontonnya. Bukan hiburan. Melainkan kesediaan untuk duduk diam dan mengakui bahwa luka itu nyata — bahkan ketika kita tidak pernah benar-benar melihatnya.

Iklan

Artikel Lainnya