Dunia Film, Anime, dan Tontonan Dewasa dalam Satu Ulasan
Iklan
Ulasan

Menonton Samsara, Film Bisu Bali yang Bicara Soal Kelas

Samsara bukan film yang ramah buat penonton yang sibuk. Tanpa satu baris dialog, Garin Nugroho memakai gambar hitam-putih dan tubuh para pemainnya untuk membedah kasta, utang, dan kekuasaan di Bali era kolonial. Simak kenapa keheningannya justru membuat pesannya lebih tajam.

Menonton Samsara, Film Bisu Bali yang Bicara Soal Kelas

Kalau biasanya kita menonton film sambil setengah telinga menangkap dialog, Samsara memaksa cara lain. Sepanjang durasinya tidak ada satu pun percakapan. Gambarnya hitam-putih. Latarnya Bali tahun 1930-an, saat kolonial masih mencengkeram pulau itu. Dan justru dari keheningan itulah film ini bicara paling lantang soal kelas sosial dan hal-hal yang tak kasat mata.

Ini bukan tontonan yang bisa dimainkan sambil sesekali mengintip ponsel. Lewatkan satu gestur, satu tatapan, satu gerak tangan, dan kamu kehilangan separuh ceritanya.

Keheningan yang Bukan Sekadar Gaya

Film bisu sering terdengar seperti gimmick. Sebuah keputusan estetika yang dipamerkan di poster, lalu ditinggalkan begitu cerita berjalan. Samsara tidak begitu. Ketika dialog dicabut, penonton dipaksa membaca hal lain: jarak antara dua tubuh yang berdiri di satu ruangan, cara seseorang menunduk, siapa yang berani menatap mata siapa.

Iklan

Di sinilah kekuatan film ini terasa. Bahasa tubuh para pemainnya menggantikan kalimat. Sebuah punggung yang membungkuk bisa berarti hormat, bisa juga berarti takut. Sebuah tangan yang menahan diri bisa berarti sopan, bisa juga berarti tidak punya pilihan. Kamu menebak, dan tebakanmu sendiri itu bagian dari pengalaman menontonnya.

Yang mengisi ruang kosong itu bukan keheningan total. Ada gamelan. Bunyi-bunyian itu bekerja seperti narator yang tidak pernah muncul di layar: menandai ketegangan, memberi tempo, kadang mengganggu justru saat kita ingin suasana tenang.

Ketimpangan yang Terlihat dari Cara Orang Berdiri

Kritik kelas dalam Samsara tidak disampaikan lewat monolog panjang atau pidato. Ia hadir di hal-hal kecil. Siapa yang boleh masuk ruang mana. Siapa yang menunggu di luar. Siapa yang memakai kain halus dan siapa yang kakinya berdebu.

Bali era kolonial adalah panggung yang tepat untuk itu. Di sana ada beberapa lapis kekuasaan yang menumpuk sekaligus: penjajah, bangsawan lokal, dan orang biasa yang terjepit di antara keduanya. Film ini tidak menjelaskan lapisan-lapisan itu dengan diagram. Ia membiarkanmu menyadarinya pelan-pelan, lewat siapa yang diberi ruang dan siapa yang hanya boleh lewat.

Yang membuat saya menghargai pendekatan ini: tidak ada penjahat tunggal. Yang ada sistem. Seorang majikan bisa terlihat lembut, bahkan sayang, tapi tetap saja ia yang menentukan hidup orang di bawahnya. Kekerasan di film ini jarang berupa pukulan. Lebih sering berupa kesopanan yang menuntut kepatuhan.

  • Ruang: siapa yang duduk di pendopo, siapa yang menunggu di halaman.
  • Tubuh: siapa yang boleh berdiri tegak, siapa yang harus merunduk.
  • Suara: hampir tak ada yang bicara, tapi yang diam pun tidak setara.

Spiritualitas yang Tidak Dijual sebagai Eksotisme

Ini bagian yang paling sering salah dikerjakan sineas ketika mengangkat Bali. Pulau itu direduksi jadi latar cantik: sawah hijau, Pura yang megah, penari yang tersenyum ke kamera. Samsara menolak jalan mudah itu. Hitam-putihnya justru menghapus pesona turis, dan yang tersisa adalah tempat yang keras, lembap, dan penuh kepercayaan yang tidak selalu ramah.

Ritual di film ini bukan ornamen. Ia punya akibat. Ada keyakinan bahwa perbuatan tertentu menuntut pembayaran, bahwa ada utang yang harus dilunasi, bahwa alam yang tak terlihat ikut campur dalam urusan manusia. Karakter-karakternya tidak memperdebatkan hal itu. Mereka hidup di dalamnya, seperti kita hidup di dalam aturan-aturan yang kita warisi tanpa pernah menandatanganinya.

Bagian menariknya, spiritualitas di sini bertemu langsung dengan persoalan kelas. Ketika hidup seseorang dianggap lebih murah, doa dan ritual pun bisa dipakai untuk membenarkan ketidakadilan. Agama dan kepercayaan, dalam film ini, bukan pelarian dari hirarki. Kadang ia justru alat untuk merawatnya.

Sebelum Menonton, Siapkan Tiga Hal Ini

Kalau kamu penasaran dan berencana menontonnya, ada beberapa hal yang bisa membuat pengalamannya jauh lebih utuh.

  • Kosongkan waktu. Jangan tonton sambil mengerjakan hal lain. Film tanpa dialog kehilangan makna begitu perhatianmu terbelah.
  • Baca sedikit konteks Bali era kolonial. Tidak perlu jadi sejarawan. Cukup pahami bahwa saat itu ada lapisan kekuasaan yang rumit, agar kamu menangkap kenapa satu karakter bisa begitu takut pada karakter lain.
  • Perhatikan suara, bukan cuma gambar. Gamelan dan hening di film ini bukan pengisi latar. Keduanya ikut bercerita.

Kalau bisa, tonton di layar besar. Film seperti ini bergantung pada detail wajah dan komposisi gambar, dan itu sering hilang di layar ponsel.

Untuk Siapa Film Ini Sebenarnya

Samsara bukan film yang akan disukai semua orang, dan itu tidak masalah. Kalau kamu datang mengharapkan alur cepat dan kejutan di tiap adegan, kamu mungkin akan gelisah di kursi. Tapi kalau kamu menikmati film yang membiarkanmu bekerja sedikit, yang menyimpan jawabannya di balik tatapan dan bukan di balik kalimat, ini salah satu yang layak dicari.

Yang saya bawa pulang setelah menontonnya bukan adegan tertentu, melainkan rasa tidak nyaman yang mengendap. Kesadaran bahwa ketimpangan sering berjalan tanpa suara, dibungkus sopan santun, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bahwa yang paling sunyi di sebuah ruangan biasanya bukan yang paling tenang, tapi yang paling tidak punya hak untuk bicara.

Film ini mengingatkan bahwa menghapus dialog bukan berarti menghapus pesan. Kadang, justru dengan berhenti bicara, seseorang akhirnya terdengar.

Iklan

Artikel Lainnya