Tiger Stripes bukan film horor yang mengandalkan setan melompat dari lemari. Kalau kamu datang mengharapkan itu, kamu akan keluar dengan perasaan lain. Mungkin sedikit bingung, mungkin sedikit tidak nyaman, dan kemungkinan besar masih memikirkannya beberapa hari kemudian. Justru itu maksudnya.
Film panjang pertama sutradara Malaysia Amanda Nell Eu ini mengikuti Zaffan, seorang anak perempuan di desa yang jadi orang pertama di lingkaran pertemanannya yang menstruasi dan bertumbuh. Alih-alih dirayakan, tubuhnya dianggap masalah. Teman-temannya menjauh, guru-gurunya curiga, dan orang dewasa di sekitarnya mulai berbisik soal sesuatu yang bukan manusia yang tinggal di dalam dirinya.
Ulasan ini membahas apa yang membuat film ini bekerja, di mana ia tersendat, dan kenapa horor pubertas versi Asia Tenggara terasa berbeda dari horor remaja Hollywood.
Kenapa Tubuh yang Berubah Jadi Sumber Horor
Pubertas sudah lama jadi bahan horor. Carrie melakukannya dengan darah dan agama, Ginger Snaps dengan bulu dan gigi. Tiger Stripes masuk ke ruang yang sama, tapi kameranya hampir tidak pernah tertarik pada gore. Ia tertarik pada reaksi orang lain.
Ketika Zaffan mulai menstruasi, tidak ada adegan besar yang dilebih-lebihkan. Yang ada tatapan. Kawan yang menjauh di kamar mandi sekolah. Guru yang mengaitkan perubahan tubuh dengan perilaku buruk. Orang tua yang bingung antara melindungi dan mengendalikan. Horornya bukan pada tubuh Zaffan, tapi pada cara orang lain membaca tubuh itu.
Eu menyentuh sesuatu yang jarang diakui terang-terangan. Bagi banyak anak perempuan di Asia Tenggara, pubertas bukan perayaan menuju kedewasaan. Ia momen ketika pengawasan tiba-tiba merapat. Baju jadi longgar, gerak jadi terbatas, dan setiap perubahan kecil berubah jadi bahan omongan tetangga. Zafreen Zairizal memainkan Zaffan dengan wajah yang keras dan mata yang tidak mau kalah, dan justru itu yang membuat kita percaya dia akan melawan balik.
Takhayul Desa dan Polisi Moral di Sekitar Tubuh Perempuan
Lapisan kedua film ini adalah folk horror. Desa tempat Zaffan tinggal punya penjelasan sendiri untuk hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Ada cerita soal makhluk yang bisa menempel di tubuh manusia, ada ritual, ada pakar spiritual yang dipanggil ketika guru dan orang tua kehabisan akal. Di tangan Eu, semua itu tidak dipakai sebagai hiasan eksotis. Ia dipakai sebagai alat kontrol.
Yang membuat Tiger Stripes terasa khas kawasan ini adalah bagaimana takhayul dan moral agama berjalan seiring. Keduanya sama-sama merasa berhak mengatur tubuh anak perempuan, hanya dengan bahasa yang berbeda. Satu bilang kerasukan, satu bilang kelakuan. Hasilnya tetap sama: Zaffan disuruh menahan diri, menyembunyikan perubahan, dan menyesuaikan diri dengan gambaran yang dibuat orang lain.
Secara visual, film ini terasa lembap, hijau, dan pengap, seperti sore menjelang hujan di kampung. Eu betah menahan kamera di wajah-wajah, jarang memotong cepat, dan membiarkan keheningan bekerja. Beberapa penonton akan menyebutnya lambat. Saya menyebutnya sabar, meski tidak selalu sabar itu berbuah.
Cara Menonton Tiger Stripes Tanpa Ekspektasi Salah
Sebelum menekan tombol putar, ada beberapa hal yang sebaiknya kamu siapkan supaya pengalamannya tidak berantakan:
- Jangan cari jump scare. Ketegangan di film ini tumbuh perlahan dari relasi antarorang, bukan dari bayangan yang muncul tiba-tiba.
- Siapkan diri untuk tempo yang menurun di paruh tengah. Ada bagian yang lebih sibuk membangun suasana daripada menggerakkan cerita.
- Perhatikan suara dan warna sebanyak kamu memperhatikan dialog. Banyak informasi disampaikan lewat raut wajah dan bunyi di latar.
- Jangan berharap penjelasan rapi soal monster di akhir. Eu sengaja membiarkan sesuatu tetap kabur.
- Tonton bersama orang lain kalau bisa. Film ini jenis yang selesai bukan di kredit penutup, tapi di perbincangan setelahnya.
Perlu dicatat juga, sebelum sampai ke penonton luas film ini menang Grand Prize di Cannes Critics' Week. Bukan penghargaan kecil untuk sebuah debut, dan itu terasa wajar setelah menontonnya.
Di Mana Film Ini Tersendat
Tiger Stripes tidak sempurna, dan mengakuinya bukan berarti mengurangi pujian. Masalah terbesarnya ada di paruh kedua. Setelah membangun dunia yang rapat dan menekan, film ini mulai kehilangan ketegangan ketika masuk ke wilayah citraan yang lebih liar. Perpindahan dari drama sosial ke imaji monster tidak selalu mulus, dan beberapa adegan terasa seperti Eu belum sepenuhnya yakin mau dibawa ke mana.
Tokoh-tokoh pendukungnya juga kurang digali. Persahabatan Zaffan dengan kawan-kawan perempuannya sempat jadi inti yang menarik, lalu dilipat terlalu cepat. Padahal justru di situ letak luka yang paling menyakitkan, ketika orang yang paling dekat jadi orang pertama yang menjauh karena takut.
Tetapi kelemahan-kelemahan ini terasa kecil dibandingkan apa yang berhasil dibangun film. Suara Eu jelas, khas, dan tidak minta izin. Untuk sebuah film pertama, itu pencapaian yang jarang.
Apakah Tiger Stripes Layak Ditonton
Kalau kamu mencari tontonan yang bisa ditebak dan selesai dengan perasaan lega, ini bukan pilihanmu. Tapi kalau kamu suka horor yang memakai hantu untuk membicarakan sesuatu yang nyata, film ini layak masuk daftar.
Yang paling saya hargai dari Tiger Stripes adalah kejujurannya. Ia tidak menjadikan pubertas sebagai metafora yang cantik atau tragis. Ia menampilkannya apa adanya, sebagai momen yang membingungkan, menyakitkan, dan kadang membangkitkan amarah. Dan bagi anak perempuan yang pernah merasa tubuhnya jadi urusan orang banyak, kemarahan itu terasa akrab.
Setelah menontonnya, saya justru ingin film seperti ini lebih sering dibuat di kawasan ini. Bukan karena kita butuh lebih banyak monster, tapi karena kita butuh lebih banyak cerita yang berani mengatakan bahwa yang paling menakutkan dari tumbuh dewasa bukanlah sesuatu yang bersembunyi di kegelapan.